Sadar
Sebuah kata yang penuh sejuta makna. Sebuah kata yang bisa mewakili banyak rasa. Namun semua itu akan bermakna jika kita merasakannya dengan hati yang penuh. Sadar. Setiap insan harus selalu merasakan kata yang satu ini. Menyadari tepatnya. Kita harus tepat menggunakan kata tersebut. Ya, dengan sadar, kita bisa mengetahui seberapa jauh arti diri kita sendiri. Semua insan pasti ingin bahagia. Dan semua insan juga tak luput dari rasa sedih. Terkadang ia tersenyum, namun kadang juga ia harus merengut. Terkadang ia tertawa, namun tak jarang juga ia menangis. Begitulah manusia pada fitrahnya. Itu adalah hawa nafsu. Anugerah tuhan yang sungguh istimewa. Kenapa demikian? Karena Allah memberikannya kepada manusia dengan dibekali akal. Tanpa akal, mungkin manusia akan berbuat sekehendak hati dan nafsunya saja. Tanpa berpikir, semuanya akan menjadi barbar. Dan disinilah sadar itu berperan. Sadar kalau kita mempunyai sebuah penawar dari hawa nafsu. Sadar kalau kita harus berpikir. Sadar kalau kita harus menggunakan akal.
Itu tadi cuma sebuah penafsiran yang sepertinya bertele-tele. Namun jangan anggap sepele. Semua itu pasti berarti, jika kita memaknainya dengan jeli. Terkadang, banyak yang tidak menyadari, bahwa kita adalah makhluk tuhan yang sungguh istimewa. Betapa tidak? Dengan berpikir, dengan menggunakan akal, kita bisa menyadari bahwa kita bukan insan yang sia-sia. Kecuali, mereka yang tidak menyadari bahwa dia adalah seorang yang sangat istimewa. Contohnya, ya bagi manusia yang mungkin belum menggunakan akal dan pikirannya secara maksimal. Atau orang-orang yang suka pesimis. Mungkin mereka belum menyadari sebuah anugerah dan nikmat dari tuhan tersebut.
Akan tetapi, ada juga saatnya kita harus sadar, ketika kita merasa seolah-olah kita sudah menjadi orang besar. Merasa sudah hebat. Merasa sudah kaya. Merasa sudah berpengalaman. Merasa punya segalanya. Merasa berkuasa. Di saat itulah kesadaran yang sangat kita butuhkan. Sadar, kalau semuanya itu bersifat sementara. Sadar bahwa itu hanya titipan belaka. Dan sayangnya, mayoritas kita baru akan sadar ketika hal tersebut sudah terjadi. Sudah hilang. Sudah tidak bisa dinikmati. Saat itulah seseorang itu akan menyadari bahwa semua itu hanya sementara. Hanya satu kata yang tersisa saat itu, 'Menyesal'. Ketika kita mempunyai sesuatu, kita kadang tidak menyadari bahwa itu hanyalah titipan tuhan semata. Sehingga, ketika kehilangan, baru kita merasa, baru kita sadar, bahwa itu hanya titipan.
Tapi, semua belum terlambat. Masih banyak hari lain yang harus kita lalui dengan kesadaran. Namun, jangan sekali-kali kita menunda rasa sadar itu hadir. Biarkan ia hadir, bahkan kalau bisa dijemput. Muhasabah diri. Bukan hanya sabar yang tidak ada batasnya, namun sadar juga begitu. Kita harus mempunyai sikap Sadar dan Sabar.
Di tulis, di atas lantai kamarku, saat isya... Sholat dulu guys.
Komentar
Posting Komentar