SEBUAH TULISAN LEPAS
Kembali menulis, itu berarti
kembali meluruskan niat untuk apa aku menulis. Karena sejatinya, kau bukanlah
siapa-siapa di mata mereka yang tak akan pernah tahu pengorbananmu dan
perjuanganmu. Lumrahnya bagi manusia, ia butuh diperhatikan karyanya, butuh ada
yang membaca ataupun menonton, butuh peminat. Karena itulah kebutuhan utama
dari seorang yang bergerak di dalam dunia kreatif.
Ah,
sebenarnya itu hanya sebuah alasan agar kita lebih bisa berinteraksi langsung
kepada siapapun yang membaca tulisan kita. Nyatanya, di zaman sekarang kita
tidak sepenuhnya tahu berapa persen pembaca yang benar-benar membaca dengan
sepenuh hati dan mengambil intisari dari sebuah tulisan. Dunia visual saat ini
lebih diminati dan lebih menjanjikan hasilnya bagi para pegiat konten kreator.
Sedangkan tulisan? Ia hanya akan dibaca oleh orang terdekat kita, atau siapapun
yang merasa tulisan itu relate banget dengan dirinya.
Zaman
tekstual saat ini jauh tertinggal dari pada visual. Kita bakal lebih sering
melihat orang melihat smartphone nya daripada buku. Tapi kan bisa baca
buku dari smartphone? Benar sekali, dan bisa saja demikian. Namun apakah
godaan untuk membuka aplikasi media sosial bisa kita tahan? Terlebih media yang
menawarkan tontonan singkat yang sedang ramainya saat ini.
Memang,
buku saat ini masih sangat banyak juga peminatnya, namun jikalau
dipersentasekan, apakah rakyat Indonesia lebih memilih membaca buku atau scrolling
TIktok? Kelebihan informasi yang instan dan cepat saat ini, membuat pergerakan
kita berkurang. Aku sendiri merasakannya. Bagaimana dalam sehari ini saja untuk
memulai sebuah tulisan, harus banyak dulu dramanya. Harus banyak dulu lihat smartphone.
Walau dipaksa untuk tidak melihat dengan mengalihkannya dengan membaca buku, tetap
saja godaan untuk membuka media sosial masih saja lebih besar.
Akhirnya,
setelah mengumpulkan niat dan membaca novel Buya Hamka, karya Ahmad Fuadi,
serta membaca tulisan Buya Hamka sendiri yang berjudul Akhlakul Karimah, aku
mulai tersadar, bahwa hidup itu harus dimulai, bukan menunggu. Bak kata sang
buya di dalam bukunya, Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah
membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Inspirasi
datang darimanapun. Namun yang terpenting bagaimana kita menggerakkan diri kita
untuk terus terinspirasi dan juga merealisasikan inspirasi itu. Banyak ide yang
berserakan di dalam kepala, namun belum sepenuhnya bisa ditumpahkan ke dalam
sebuah karya maupun tulisan. Tulisanku sendiri masih jauh dari kata sempurna,
bahkan untuk menarik perhatian pembaca saja juga masih kurang rasanya. Aku
hanya menuliskan apa yang terlintas di pikiranku, setelah membaca beberapa
buku, yang kadang buku tersebut tidak selesai dibaca.
Kesadaran
akan kurangnya ilmu itu akhirnya muncul juga. Selama ini aku hanya mampu
bergerak di zona nyamanku, tanpa mau mencoba menggerakkan diri untuk melawan
hawa nafsu dan kemalasan diri yang tiada hentinya untuk selalu menggoda dan
kembali bermalas-malasan. Masih banyak buku yang harus dibaca. Masih banyak
ilmu yang harus dipelajari. Masih banyak kajian ilmu agama yang harus
didengarkan dan diikuti. Kesadaran itu muncul justru di saat umurku hampir
menginjak tiga puluh tahun, dan itu hanya dua tahun lagi. Apa aku bisa mengejar
ketertinggalan itu? Apa aku bisa melewati batas diriku sendiri? Apa aku bisa
kuat menahan segala bentuk godaan untuk bermalas-malasan, yang pada akhirnya
nanti tujuan hidupku tidak tercapai?
Semua
itu tak cukup hanya dengan disadari, namun mulailah dengan aksi. Coba cek lagi
diri kita sendiri, apa tujuan kita hidup di dunia ini? Apa kita puas dengan
pola hidup yang telah lakukan sehari-hari? Apa kita mau terus berada di zona
yang mengayunkan diri kita bahwa dunia adalah kenikmatan? Mulai dari sekarang,
coba cek diri kita masing-masing, mau sampai kapan kita seperti ini? Mulailah
dari perbaiki sholatmu bagi saudara-saudaraku yang muslim. Bagi teman-teman
yang lain, coba cek lagi bagaimana sebenarnya hubungan kita dengan Tuhan? Apa
kita akan selamanya hidup di dunia ini? Apa kita tidak mempersiapkan bekal
ketika nanti kita mati? Mari kita luangkan waktu dan merenung sejenak. J

Terbaik👍💯
BalasHapusGood written ma boy😍😍
BalasHapusMenarik ini👍
BalasHapus