HAMDI & IMPIANNYA
HAMDI & IMPIANNYA
Tidak ada seorang anak laki-laki yang tidak
menyukai olahraga yang satu ini. Sepakbola. Terutama di negara kita tercinta
ini, Indonesia, sudah tidak asing tentunya ketika melihat anak laki-laki
bermain bola. Tak terkecuali Hamdi. Seorang anak yang sangat menyukai
sepakbola. Bahkan ia mempunyai mimpi untuk menjadi pemain bola profesional dan
ingin membela Timnas Indonesia. Sedari kecil ia sudah mulai bermain sepakbola.
Sepulangnya ia dari sekolah, ia langsung berganti pakaian olahraga, layaknya
seorang pemain bola dan menuju ke lapangan pasiran yang ada di tepi sungai. Ya,
Hamdi adalah seorang anak desa yang hidup di tepian sungai. Setiap hari
sepulang sekolah, Hamdi langsung mengajak semua teman se-desanya untuk bermain
bola di pasiran.
Teman-teman Hamdi sangat terperangah dengan
keahlian Hamdi bermain bola. Ia memiliki nafas yang panjang, terlebih karena ia
terbiasa bermain di pasiran. Alhasil bukan hanya fisiknya saja yang menjadi
lebih kuat, tetapi nafasnya juga demikian. Ditambah lagi Hamdi tidak pernah merokok
walau sekalipun. Tidak seperti teman sebayanya yang sudah mulai mengenal rokok.
Hamdi tidak ingin merokok karena ia tau, cita-citanya sangat tinggi. Ia tidak
ingin merusak tubuhnya hanya karena tergoda untuk merokok mengikuti
teman-temannya. Ia rela diledek karena tidak gaul seperti teman-temannya.
Hari berganti dan dunia terus berputar. Hamdi
kali ini harus menghadapi dua keputusan yang sangat berat. Orangtua Hamdi ingin
menyekolahkan Hamdi ke sebuah pesantren. Hamdi terkejut. Padahal beberapa minggu
yang lalu, ia sempat mengajukan untuk minta disekolahkan di luar kota agar ia
bisa mengikuti Sekolah Sepakbola. Namun ternyata hal itu ditentang oleh
orangtuanya, dan lebih memilih untuk memasukkan putranya tersebut ke pesantren.
Hamdi kecewa. Harapannya untuk menimbah ilmu sepakbola pupus. Ia tak berani
untuk melawan kedua orangtunya. Ditambah lagi, beberapa minggu yang lalu, Hamdi
baru saja mengalami cedera tangan. Dan itu akibat ia bermain sepakbola. Ibunya
menangis saat itu. Melihat anaknya yang
sangat kesakitan. Tangan Hamdi mengalami cedera
tangan, setelah ia diinjak oleh lawan mainnya. Beruntung
tidak sampai patah tulang.
Sejak saat itu, Hamdi harus menjalani
perawatan yang sangat ekstra. Terlebih setelah itu, ia dilarang untuk bermain
sepakbola lagi untuk sementara waktu. Hamdi hanya bisa menangis. Menangis
karena telah mengalami hal yang sama sekali tidak ia inginkan. Dan kali ini,
Hamdi harus mengambil keputusan yang sangat berat. Ia akan dimasukkan ke
pesantren. Mimpi Hamdi hampir pupus. Ia tidak akan bermain sepakbola lagi
pikirnya. Orangtuanya pun telah melarang Hamdi untuk bermain bola lagi,
sekalipun itu adalah kegiatan pesantren. Ia harus menjalani perawatan dulu
terhadap tangannya. Dan itu paling tidak selama setahun penuh.
Sebulan kemudian, akhirnya Hamdi masuk
pesantren. Ia diantar oleh kedua orangtuanya. Saat akan kembali pulang,
orangtuanya kembali berpesan kepada Hamdi, untuk tidak bermain bola. Hal
tersebut didengar oleh calon abang kelasnya di pesantren. Namanya Ilham. Ilham adalah
seorang pemain sepakbola. Dan rupanya, Ilham juga mengerti tentang fisioterapi.
Sepulangnya orangtua Hamdi, Hamdi langsung masuk ke kamar barunya. Kamar yang
berisikan oleh anak-anak seumurannya dan dari daerah yang berbeda-beda. Ia
memasukkan pakaiannya ke lemari yang telah disediakan.
Di pesantren ini, Hamdi diajarkan bagaimana
seorang santri itu beribadah dengan baik
dan benar. Hingga
akhirnya ia tersadar, bahwa orangtuanya mengambil keputusan yang tepat untuk
mamasukkan Hamdi ke pesantren. Di pesantren ini juga Hamdi dilatih mental, agar
tidak memiliki mental ‘tempe’. Santri itu harus mempunyai mental baja, agar bisa menjadi
muslim yang kuat. Tentunya berbagai cobaan mulai dirasakan oleh Hamdi. Terutama
selama ia dalam masa pengobatan tangannya yang patah.
Pada suatu sore, setelah sholat ashar, Hamdi
dan teman-temannya yang lain pergi menuju ke lapangan bola pesantren. Kata
temannya ada pertandingan yang seru, yakni pertandingan antara tim kelas 5
melawan tim kelas 6. Hamdi sangat semangat dibuatnya. Ia mengambil tempat duduk
tepat di tepi lapangan. Pertandingan pun dimulai. Hamdi terperangah melihat
aksi Ilham, dari tim kelas 6. Kemampuan Ilham menggocek bola berhasil membuat
para penonton bersorak sorai. Tak terkecuali Hamdi. Ia sangat senang dan semangat.
Semangatnya untuk menggapai impiannya kembali menggebu. Pertandingan itu
akhirnya dimenangkan oleh tim dari kelas 6, yang diperkuat oleh Ilham dengan skor 3-0.
Selepas pertandingan, Hamdi mendekati Ilham.
Ia sangat mengagumi sosok Ilham yang sangat keren dan juga kalem.
“Kak, kakak hebat sekali mainnya” Ujar Hamdi
“Ah, biasa aja kok, nama kamu siapa?” Tanya
Ilham balik.
“Saya Hamdi kak, saya juga pengen jadi seperti
kakak.” Jawab Hamdi bersemangat.
“Oh, ya? Bukannya tangan kamu masih cedera?”
“Loh, kok kakak tau?
“Iya, saya kemaren dengar kamu dilarang sama
orangtuamu untuk bermain bola, karena tangan kamu masih sakit”
Hamdi merenung, ia ingat pesan orangtuanya
kembali.
“Tapi tenang saja, saya bisa kok mengobati
kamu.” Ujar Ilham, mencoba menenangi Hamdi.
“Hah, kakak emang bisa mengobati saya? Kakak
tukang urut ya?” Tanya Hamdi ke Ilham.
Sembari tersenyum, “Bukan kok, kebetulan saya
bisa dan mengerti tentang fisioterapi, tangan kamu ini bisa sembuh dengan cepat
kok. Bahkan kalau kamu terus disiplin dalam masa pengobatan, bulan depan kamu
sudah bisa ikut latihan bola bersama saya.” Ujar Ilham
Hamdi sangat terpana dibuatnya. Ia akan
bersemangat dan tentunya berdisiplin dalam masa pengobatannya. Setiap sore dan
malam, Hamdi diobati dan juga diberi latihan ringan oleh Ilham. Tentu saja hal
ini sudah diberikan izin oleh ustadz pengasuhnya.
Sebulan
kemudian, akhirnya Hamdi sembuh total dari cederanya. Namun harus tetap dalam
pengawasan tentunya. Ia sudah diperbolehkan untuk ikut latihan sepakbola yang
dilatih langsung oleh Ust. Bagus dan juga Kak Ilham. Ia berlatih dengan serius,
dan disiplin. Di pagi harinya, selepas kegiatan di mesjid, ia lari mengitari
lapangan bola. Dan itu ia lakukan setiap pagi. Agar tubuh dan fisiknya menjadi
lebih kuat. Begitulah nasehat Kak Ilham kepada Hamdi.
Semakin
hari, Hamdi semakin menunjukkan progres yang sangat baik. Ia dipanggil oleh
pelatihnya untuk bergabung di dalam tim pesantren yang akan mengikuti
pertandingan persahabatan melawan pesantren lain yang ada di daerahnya. Hamdi
sangat senang dengan pencapaian yang telah ia raih sejauh ini. Kata-kata Kak
Ilham selalu terngiang di telinganya, MAN JADDA WAJADA, siapa yang
bersungguh sungguh, pasti akan berhasil. Dengan mantra itulah, Hamdi bisa
menembus tim pesantren.
Pada
hari ahad, yaitu hari kunjungan santri, kedua orangtua Hamdi datang
menjenguknya dengan kerinduan yang sangat teramat setelah satu bulan ini tidak
datang menjenguk Hamdi. Hamdi juga merasakan hal yang demikian. Mereka saling
bercerita, sampai pada cerita Hamdi sudah sembuh dari cederanya, dan Hamdi
kembali meminta izin untuk bermain bola karena ia dipilih untuk memperkuat tim
pesantren. Ayahnya sangat senang mendengarnya, seraya bertanya, siapa yang
sudah merawat cederanya selama ini. Hamdi pun bercerita tentang Ilham, kakak
kelasnya itu. Ayah Hamdi ingin bertemu dengan Ilham, dan berterimakasih atas
pertolongan dan juga perhatian yang telah Ilham berikan kepada anaknya.
“Terimakasih sekali, nak Ilham. Saya sangat
senang ketika mendengar Hamdi bisa kembali bermain bola. Karena sebenarnya saya
tau, Hamdi memiliki bakat di sepakbola.” Ujar Ayah Hamdi ke Ilham.
“Sama-sama Pak, kebetulan kemaren saat Bapak
dan Ibu mengantar Hamdi, saya mendengar bahwa Hamdi dilarang untuk bermain
sepakbola, karena cedera di tangannya. Dan kebetulan juga saya mengerti tentang
pengobatannya, makanya saya berinisiatif untuk mengobati cedera Hamdi pak.”
Ucap Ilham seraya tersenyum.
Hamdi sendiri, ia sangat senang dengan apa
yang sudah terjadi padanya saat ini. Keputusan terberat sudah ia lewati, ia
mengikuti permintaan orangtuanya untuk masuk ke pesantren, dan meninggalkan impiannya sekolah di sekolah sepakbola. Dan sekarang, Hamdi justru mendapatkan
keduanya secara bersamaan. Ia terpilih menjadi anggota tim sepakbola pesantren,
dan ia mendapatkan banyak pengalaman berharga, meski ia baru dua bulan di pesantren ini. Hamdi menyadari, bahwa dengan kerja keras, disiplin
dan juga bersungguh-sungguh, ia bisa menggapai impiannya. Ya, walaupun
impiannya yang sebenarnya adalah menjadi pemain profesional. Tapi tidak
mengapa, dengan masuk pesantren dan belajar di dalamnya, semoga bisa
menjembatani impiannya tersebut untuk menjadi pemain bola profesional yang juga kenal dengan agama.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar