CERPEN - KASIH TAK SAMPAI

 

KASIH TAK SAMPAI

Penulis Ikhwan Julisman


            Perihal hati siapa yang tau. Perasaan yang tak terduga itu muncul dengan sendirinya. Perasaan asing yang tak pernah dirasakan oleh Abdul sebelumnya. Yang ia tau masa mudanya hanyalah tentang berjuang dan berusaha. Berusaha mengejar impiannya. Abdul, seorang pemuda tanggung yang sudah menapaki masa remajanya dengan berbagai cobaan dan rintangan. Ia sudah ditinggalkan oleh orang yang paling ia sayangi selama-lamanya sejak ia masih berumur 13 tahun. Ibu dan Ayahnya mengalami kecelakaan saat mereka ingin menjenguk anak bungsunya itu ke sebuah pesantren. Ya, Abdul sudah dimasukkan ke sebuah pesantren setelah tamat dari Sekolah Dasar. Kecelakaan itu langsung merenggut nyawa kedua orangtuanya.

            Sejak kejadian itu, Abdul harus berusaha untuk mencari uang sendiri demi kelangsunggan hidupnya di pesantren. Tidak hanya itu, ia juga harus mencari peluang beasiswa dari pesantrennya agar ia bisa terbebas dari iuran bulanan, dan fokus belajar. Usahanya membuahkan hasil, ia mendapatkan beasiswa penuh dari pesantrennya. Dengan syarat ia harus menjadi santri yang memiliki budi pekerti yang baik, akhlak yang baik, dan tentunya nilai yang bagus. Abdul menyanggupi semua syarat itu dengan mata berkaca-kaca sembari mendengarkan syarat tersebut yang disampaikan langsung oleh Pimpinan pesantrennya.

            Dua tahun berlalu, tidak ada masalah yang berarti pada kehidupan Abdul di pesantren. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menjadi santri yang berprestasi di pesantrennya. Sebelum pada akhirnya ia mengenal salah seorang santri putri. Ya, pesantren itu juga terdapat santri putrinya. Namun, selama ini Abdul hanya fokus pada belajar dan ibadah. Sampailah pada suatu ketika, ia dan Nayla berpapasan di depan kantor majelis guru, yang saat itu keduanya ingin mengambil surat izin untuk temannya yang sedang sakit. Abdul terpanah dibuatnya, melihat senyuman malu yang tersungging dari bibir Nayla. Pipi Abdul memerah dan seketika ia kalut dalam sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan selama ini.

Nayla, seorang santriwati berperawakan mungil dan memiliki paras yang sangat menawan dengan senyumannya yang manis. Ia merupakan adik kelas Abdul. Kelas putra dan putri memang tempatnya terpisah. Namun, ada pada satu waktu mereka harus berurusan dengan kantor pusat pesantren, untuk meminta izin contohnya. Dan Abdul terjebak dengan kejadian ini. Kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kejadian yang membuat pikirannya jauh melayang dan melukiskan wajah seorang Nayla. Senyuman itu. Senyuman pertama Nayla pada seorang santriwan, yang sebelumnya memang jarang berurusan dengan santri putra lainnya.

Entahlah apa yang dirasakan Nayla pada saat itu. Ia tersenyum hanya karena sebuah isyarat agar Abdul mengambil surat izin terlebih dahulu.

“Silahkan duluan akhi” ucapnya kepada Abdul.

“Oh, iya baik. Ana duluan ya.” Balas Abdul dengan nada yang terdengar sedikit gugup, lalu berlalu begitu saja meninggalkan Nayla yang masih berurusan dengan Ustadzah yang ada di kantor.

Sejak kejadian itu, Abdul selalu terbayang-bayang wajah Nayla. Hadi, temannya sampai dibuat bingung saat Abdul senyum-senyum sendiri.

“Abdul, ente kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?”

“Ah, tidak ada Hadi. Ana hanya terbayang wajah santriwati yang ana temui di kantor tadi”

“Wah, wah, wah. Kok curang ente dul. Jangan-jangan Nayla ya?”

“Ah, mana kenal ana. Kok ente tau namanya?”

“Dul, dul. Di pesantren ini siapa yang gak kenal sama Nayla. Ente aja yang sibuk belajar terus.”

“Ya gimana lagi, kalau ana gak belajar, gak dapat beasiswa lagi ana nanti.”

“Iya juga sih. Tapi yakin, gak mau kenalan sama Nayla?”

“Ah, kapan-kapan aja Hadi, udah ya ana mau hafal qur’an dulu ya, Assalamu’alaikum.” Ucap Abdul sambil berlalu

Sejak kejadian itu, Abdul selalu terbayang wajah Nayla. Akan tetapi, ia langsung teringat dengan kedua orangtuanya yang sudah tiada. Kalau lah saja ia memutuskan untuk selalu memikirkan Nayla, ia mungkin tidak akan lagi menjadi santri yang berprestasi. Dan tentunya, ia akan terputus dari beasiswanya. Akhirnya, ia melupakan senyuman itu, melupakan wajah manis itu. Melupakan semuanya demi kesuksesan yang sudah menanti di depan sana, yakinnya.

Beberapa tahun kemudian . . .

Di dalam sebuah kereta api, Abdul tengah duduk manis sembari menikmati pemandangan yang terpapar dan terlihat begitu indah dari jendela kereta. Ditemani secarik kertas dan sebatang pena, Abdul menuliskan sebuah puisi yang berjudul ‘NAYLA’. Seorang wanita yang saat ini masih ia cari. Mungkin bisa dibilang sebagai cinta pertamanya. Ia tak akan melupakan senyuman itu. Senyuman yang saat itu sempat membuatnya luluh. Pertanyaannya, kemanakah ia bisa menemui Nayla? Entahlah. Hanya helaan nafas yang dapat ia keluhkan. Sampai detik inipun ia tak bisa menemukan sosok itu. Sosok yang sudah ia cari sejak saat ia lulus dari pesantrennya.

Sudah banyak puisi yang ia rangkai dengan kata-katanya yang indah itu. Seolah, ia sudah menjadi Budak Cinta bak seorang pujangga yang ahli dalam merangkai kata. Ya, jujur saja, Abdul memang bertekad untuk bisa meminang Nayla. Ia tidak ingin melewati masa pacaran, karena sudah jelas, pacaran dilarang oleh agamanya. Ia takut terjerumus ke dalam dosa zina. Begitulah pikirnya. Tekadnya itu sudah ia bangun sejak pertama kali melihat senyuman itu. Ia sempat melupakan Nayla dan lebih memilih fokus sama tujuannya. Usahanya membuahkan hasil, ia menjadi lulusan terbaik di pesantrennya. Namun sayangnya, Abdul harus kehilangan jejak dari seseorang yang sangat ia cintai.

Ya, Abdul memang sudah jatuh cinta kepada Nayla. Bahkan sejak saat itu. Sejak pertemuan awal mereka. Suatu hal yang tidak diketahui oleh Abdul adalah, Nayla juga menaruh hati kepadanya. Juga sejak pertemuan awal mereka. Senyuman yang sengaja ia sunggingkan kepada seseorang yang saat itu sangat ia kagumi. Dan benar saja, Abdul memang menjadi buah bibir di kalangan santri putri saat itu. Selain cerdas dan berprestasi, Abdul juga dikenal sebagai santri yang ganteng juga aktif, namun terlihat sangat cuek. Idaman santri putri bangetlah pokoknya. Tak terkecuali Nayla. Percakapan singkat yang saat itu mampu membuat pipinya merah merona. Nayla malu, namun hatinya sangat senang.

Berbeda dengan Abdul yang memilih fokus kembali ke tujuannya saat itu, Nayla selalu terbayang wajah Abdul. Tiada malam yang terlewati olehnya untuk memikirkan Abdul. Terdengar lebay sih, namun begitulah kenyataannya. Bahkan saat itu, ia sempat dipergoki oleh kakak kelasnya saat Nayla menulis surat untuk Abdul. Alhasil, surat itu dirampas dan dikoyak begitu saja di depan muka Nayla. Nayla terpukul. Malu. Frustasi. Terlebih setelah kakak kelasnya itu melaporkan hal tersebut ke Ustadzah asramanya. Nayla diceramahi, bahkan terkesan dimaki oleh Ustadzah tersebut yang rupanya juga mempunyai rasa kepada Abdul.

Ah, benar ternyata kata-kata pujangga itu, cinta bisa membutakan siapapun. Cinta bisa membuat seseorang seperti hilang akal sehatnya ketika ia tidak mampu mengartikan rasa cinta itu dengan baik. Nayla terpuruk. Sangat terpuruk. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah dari pesantrennya itu. Merelakan pujaan hatinya itu diperebutkan oleh orang-orang yang dibutakan oleh cinta dan pesona dari Abdul, yang sebetulnya Abdul sendiri sangat cuek dan terkesan tidak memperdulikan sama sekali akan sikap mereka terhadapnya. Karena sudah tentu, hatinya hanya terpaut kepada Nayla. Sayang sekali, sikap cuek Abdul itu membuat ia kehilangan jejak Nayla hingga saat ini.

Sesampainya di Stasiun kereta, Abdul beranjak turun dari keretanya itu. Ia melihat alamat pada secarik kertas yang diberikan oleh kakeknya di desa. Alamat itu adalah rumah Pamannya. Saat itu Abdul sedang fokus untuk mencari beasiswa S1 keluar negeri. Sampai ia harus merantau dari Sumatera ke Jawa. Abdul memesan taksi untuk menuju rumah Pamannya dan menyerahkan alamat tersebut kepada supir. Di tengah perjalanan ke rumah Pamannya, taksi tersebut mogok.

“Mohon maaf dek, taksinya tiba-tiba mogok ini.” Ujar supir

“Yah, padahal sedikit lagi sampai pak, tapi tidak apa-apa pak, sampai di sini saja. Biar saya jalan saja.” Ucap Abdul.

Abdul akhirnya mulai berjalan, memasuki sebuah desa yang sangat asri dan damai. Suasana desa yang sejuk baginya dibandingkan saat di Sumatera. Pasir Pogor, Buah Batu, salah satu desa yang terdapat di Jawa Barat. Ia menyusuri desa itu dengan hati yang damai tanpa terpikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar saja, saat ia sedang asyik menikmati pemandangan desa tersebut, pandangannya terseret pada sebuah sosok. Sosok yang selama ini ia cari. Senyum yang selama ini ia rindukan. Sosok itu kembali tersenyum kepadanya. Senyuman khas seperti saat awal mereka bertemu.

Nayla. Iya, betul, itu adalah Nayla. Yang selama ini Abdul cari. Nayla yang saat itu sedang menyapu teras rumah pun juga terkejut dengan pemandangan yang saat itu ia lihat. Abdul. Sosok itu. Sosok yang sudah lama ia lupakan, namun harus kembali teringat. Hampir saja ia menangis. Entahlah, tangisan apa yang sedang ia tahan. Rindu. Ya. Jelas. Nayla juga rindu dengan Abdul. Rindu itu terbayar sudah. Namun masih menjadi rahasia, kenapa Nayla bisa sampai ke tempat ini?

“Assalamu’alaikum.” Ucap Abdul

“Wa’alaikumussalam.” Balas Nayla

“Afwan, ini beneran Nayla kan?”

“Iya, benar saya Nayla, akhi Abdul.” Jawabnya sembari tersenyum

“MasyaAllah, kok bisa sampai di sini Nayla? Ana sudah mencari anti ke berbagai tempat”

“QadarAllah akhi, ana dibawa oleh suami ana. Kebetulan beliau orang asli sini dan juga bekerja di daerah sini.” Ucap Nayla sambil bergetar. Ia sebenarnya tak mampu mengucapkan hal itu, namun harus ia ungkapkan.

Deg. Hancur sudah harapan Abdul selama ini. Nayla sudah menikah. Menikah dengan pilihan orangtuanya tepatnya. Karena sebenarnya Nayla juga menanti kehadiran Abdul untuk melamarnya. Namun sayang sungguh di sayang, pujaan hati tak kunjung datang. Akhirnya Nayla mengikuti pilihan orangtuanya itu. Mereka menikah. Tepat setahun yang lalu. Abdul tak sanggup menahan air matanya. Ia berlalu begitu saja. Meninggalkan harapan hatinya begitu saja. Memang salah terlalu berharap kepada manusia. Ia urungkan niatnya untuk tinggal sementara di rumah Pamannya. Sore itu juga, ia kembali menaiki kereta arah ke Jakarta. Menangis sejadi-jadinya di dalam kereta sembari membaca kembali puisi yang selama ini ia rangkai.

Begitupun Nayla. Tak tega hatinya melihat harapan hatinya itu pergi meninggalkannya. Namun apalah daya, ada hati lain yang harus ia jaga. Hati yang sudah setahun ini sudah bersamanya. Suami tercinta. Meski sebenarnya bukan Kang Maman yang ia harapkan. Namun agamanya mengajarkan untuk berbakti kepada suaminya. Tiada harapan yang lebih indah melainkan harapan yang kita gantungkan kepada Allah SWT. Tiada cinta yang lebih indah melainkan kecintaan kita kepada Allah SWT.    

 

 

Sekian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

GURU TERBAIK, ADALAH PENGALAMAN HIDUP

Sebuah catatan kecil dari orang kecil yang bersiap dengan tanggungjawab besar di depan sana!

TULISAN AWAL TAHUN - KUNCI SUKSES & BAHAGIA DI 3 ALAM