Senin
(Karya : I. Julisman)
Mentari pagi telah terbit dari ufuk timur
Menandakan bahwa hari ini telah dimulai dengan teratur
Dedaunan pun mulai gugur
Dari setangkai kayu yang telah melentur
Senin, itulah namanya
Senin selalu menjadi hari permulaan di tiap pekannya
Tapi selalu saja masih ada yang ternganga
Karna terbuai dengan hari yang penuh cerita sebelumnya
Wahai kawula muda
Ayolah membuka mata
Jangan malah terperanjat dengan duka
Karna duka bisa menjadi suka
Marilah mulai merintis
Jangan kau malah meringis
Sebab waktu akan terus habis
Hingga yang tersisa hanyalah pesimis
Mulailah seninmu dengan sebuah senyuman
Senyuman yang mampu membuat dirimu nyaman
Nyaman karna kau slalu memiliki angan
Bukan malah sebuah jeritan kesedihan
Senin, adalah sebuah hari yang memiliki 24 jam
Sama seperti hari lainnya
Tapi tahukah kau betapa pentingnya senin?
Di hari seninlah kita bisa memulai hal yang besar
Untuk sepekan ke depan
GURU TERBAIK, ADALAH PENGALAMAN HIDUP
Kau tau bagaimana rasanya semu dan tak berarah? Kau tau bagaimana rasanya diri tak punya sandaran? Kau tau bagaimana rasanya kalau kita bependidikan? Semua pertanyaan tersebut merupakan refleksi untuk kita semua. Bagaimana kalau kita hidup tanpa belajar, seolah kehampaan menghampiri begitu saja. Di saat kesenangan hidup dirasa cukup, saat itulah hampa mulai menghampiri. Pentingnya sebuah keseimbangan. Kau tak selamanya akan merasakan senang, begitu pula sebaliknya, kau tak akan selamanya merasakan sedih. Kembali lagi, keseimbanganlah yang akan mewarnai hari-harimu. Yang membuat kau menjadi seseorang yang mempunyai nilai. Saat kau mampu merasakan keduanya, dan kau mampu menyeimbanginya, maka kau telah melewati ujian yang sesungguhnya. Dipuji tidak terbang, dihina tidak tumbang. Harap-harap dapat validasi, namun nyatanya kau sedang merefleksi diri. Kau haus pujian? Hidupmu sangat kesepian. Butuh sesuatu yang bemakna dan bernilai untuk terus kau lakukan. Kau tak sanggup dengan cob...
Komentar
Posting Komentar