Surat Untuk Ibu
Dear Ibu, Pesantrenku
Monday, 04-09-2017
Ibu,
Aku takluk kali
ini. Aku dikalahkan oleh semua nafsu yang telah membimbingku kejalan yang
salah. Kejalan yang sama sekali tak pernah kau ridhoi. Tuhan pun murka
terhadapku. Terlebih ayah, beliau sangat kelelahan dalam mengajak kami yang
seperti batu karang yang tak hancur meski terendam didasar laut. Bagaimana
dengan adik-adik kami? Mereka yang seharusnya mendapatkan perhatian, mereka
yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari kami, namun nyatanya kami tak
mampu menjaga amanah itu Ibu. Kami belum mampu memberikan itu.
Ibu,
Malam ini Ayah
kembali menegur kami, yang aku yakin itu adalah yang terbaik dan petunjuk dari
Allah SWT bahwa kami telah lalai. Aku sama sekali tak memandang teguran itu
menyayat hatiku, apalagi harus berani menentang teguran itu. Meski cara Ayah
terlihat keras kepada aku dan kami semua, aku anggap itu sebagai tamparan keras
bahwa kami telah lalai. Lalai terhadap amanah kami yang sesungguhnya. Lalai
dalam melaksanakan tugas, tidak bertanggung jawab, apakan lagi berbicara
tentang kepedulian. Tidak ada.
Ibu,
Aku agak segan
ber aku-aku, namun yang kurasa adalah , aku sudah mengerahkan semua apa yang
bisa kulakukan kepada adik-adikku. Namun, ini pasti teguran Allah atas segala
sepak terjang yang telah aku lakukan selama ini. Aku tak mengharap aku dipuji.
Aku sama sekali tidak berharap untuk disayangi karna prestasi yang dapat
membutakan mata hati, sehingga mudah sekali setan merusak hati. Yang aku
inginkan hanya satu dari sekian banyaknya harapan. Aku ingin aku dan
teman-teman seperjuanganku untuk kembali sadar. Sadar kalau kita adalah seorang
yang benar-benar ‘ada’ di Pesantren ini, ada untuk Ibu kita. Bukan hanya
sebagai pelengkap, tapi benar-benar mampu untuk bermanfa’at bagi Ibu kita, bagi
adik-adik kita.
Ibu,
Maaf, adalah
kata yang lumrah yang selalu diucapkan oleh siapapun yang melakukan kesalahan.
Sangat mudah mengatakannya, namun susah untuk mengartikan kata maaf yang
sesungguhnya. Tapi aku percaya, dengan setidaknya mengucapkan kata maaf, hatiku
terasa sedikit lapang dan nyaman. Setidaknya dengan kata tersebut aku bisa
meruntuhkan egoku dan juga menghancurkan rasa gengsi yang tak pernah mau
ditegur, yang ujungnya sama saja mengikuti sifat setan, yaitu sombong.
Ibu,
Aku tidak tahu kapan
masa pengabdianku akan berakhir kepadamu. Dan aku juga tidak tahu kapan
berakhirnya aku berada didunia ini. Namun, aku akan selalu berusaha untuk
menjadi lebih baik lagi Ibu. Aku akan selalu mencoba melakukan yang terbaik untukmu
dan untuk jalan hidupku didunia ini sebelum semuanya berakhir. Aku ingin
berakhir dalam keadaan husnul khotimah, baik dalam masa pengabdianku
terhadapmu, maupun dalam sisa hidupku. Itulah alasanku kenapa aku masih
bertahan disini, ditanah ini.
Ibu,
Tekadku akan
mengalahkan egoku. Aku akan percayai itu. Aku akan buktikan kepada Ayah, bahwa
aku bukan anak yang tak tahu diuntung, bukan anak yang tak bisa diharap. Aku
bahkan tahu, bahwa kata-kata pun tak akan bisa mengalahkan fakta maupun
realita. Karna fakta ataupun realita adalah bukti sesungguhnya bagi seorang yang ingin membuktikan dirinya.
Tapi, melalui kata, kita bisa merangkai sebuah hal yang indah, meski baru
sekedar berada diangan-angan. Tapi aku yakin, setidaknya dengan menuliskannya
dalam bentuk kalimat yang tersusun dari berbagai kata, itu mampu memompa
kembali semangatku yang kadang kempis tak berangin. Untuk adik-adikku, aku akan
buktikan bahwa aku dan abang/kakakmu yang lain, maafkan kami, yang selalu
memikirkan diri kami dahulu. Terkhusus aku, aku akan berusaha menjadi kakak
yang super, keren dan pastinya bisa bermanfa’at bagi adik-adik, dan juga Ibu
kita J
Komentar
Posting Komentar